Latar
Belakang
Medan
didirikan oleh Guru
Patimpus Sembiring Pelawi pada tahun 1590.
John Anderson, orang Eropa pertama yang mengunjungi Deli pada tahun 1833
menemukan sebuah kampung yang bernama Medan. Kampung ini berpenduduk 200 orang
dan seorang pemimpin bernama Tuanku Pulau Berayan sudah sejak beberapa tahun
bermukim disana untuk menarik pajak dari sampan-sampan pengangkut lada yang
menuruni sungai. Pada tahun 1886, Medan secara resmi
memperoleh status sebagai kota, dan tahun berikutnya residen Pesisir Timur
serta Sultan Deli pindah ke Medan. Tahun 1909, Medan menjadi kota yang penting
di luar Jawa, terutama setelah pemerintah colonial.
Kota medan adalah
kota keempat terbesar di indonesia setelah jakarta, surabaya dan bandung.
Sehingga kota medan merupakan kota terbesar yang terletak di luar pulau Jawa.Kota
medan terkenal di kalangan pelancong sebagai tempat yang cocok untuk wisata
kuliner. Kota ini merupakan kota yang dihuni oleh berbagai macam etnis,
sehingga menimbulkan keanekaragaman termasuk dalam hal makanan.Sejatinya kota
medan bukanlah kota tujuan wisata, namun kota ini banyak dikunjungi wisatawan
yang transit untuk menuju danau toba, pulau samosir dan brastagi, serta tujuan
luar negeri seperti Penang.
Sebagai salah satu kota terbesar ketiga di Indonesia, kota
Medan juga memiliki berbagai tempat dan kawasan wisata, baik itu tempat wisata
peninggalan jaman dahulu, maupun tempat wisata yang dibuat pada masa sekarang.
Kota Medan merupakan
Ibukota propinsi Sumatera Utara, juga merupakan kota terbesar ketiga di
Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya. Kota Medan memiliki banyak objek
wisata, baik di dalam kota maupun di sekitarnya. Banyak tempat bersejarah yang
bisa kita kunjungi dan kita apresiasi di Kota Medan.
Berbagai suku dan agama
bercampur baur menjadi satu, sehingga kota Medan menjadi lebih kokoh karena
keberagaman tersebut, ditambah lagi jaminan dari pemerintah kota Medan
serta jajaran kepolisian, yang dengan sigap menangani segala macam peristiwa
kriminal sampai yang menjurus kepada terorisme.
Namun dibalik ambisi
menuju kota Metropolitan, ternyata pemerintah kota Medan kurang memperhatikan
kondisi dan keadaan berbagai sarana dan prasarana penting bagi masyarakat kota
medan, terutama dalam hal menangani banjir yang sering melanda bila hujan
turun. Pembangunan yang agresif ternyata berdampak sangat buruk bagi
lingkungan, dikarenakan para pengembang kurang jeli dalam melihat akibat yang
ditimbulkan dari pembangunan tersebut, saat ini ribuan ruko telah dibangun di
kota Medan, namun untuk pembuangan air hujan sangat tidak dilakukan perbaikan,
sehingga air menggenang di inti kota.
Tujuan
Untuk mengetahui dan menambah
investasi pertumbuhan ekonomi sektor-sektor unggulan dan potensial yang layak
dikembangkan sebagai penggerak perekonomian di wilayah Medan, Sumatera Utara.
Masalah
1. Kurangnya peran pemko dalam hal promosi.
2. Belum memadainya sarana dan prasarana
pendukung yang ada.
3. Kualitas tenaga kerja yang kurang terlatih.
BAB
II
POTENSI
POTENSI
Sebagai salah satu kota terbesar
ketiga di Indonesia, kota Medan juga memiliki berbagai tempat dan kawasan
wisata, baik itu tempat wisata peninggalan jaman dahulu, maupun tempat wisata
yang dibuat pada masa sekarang.
1. Objek-objek Wisata di Kota
Medan
Berdasarkan hasil penelitian penulis selama ini, dapat disimpulkan bahwa tempat wisata di kota Medan adalah sebagai berikut :
a. Objek Wisata Kota Medan Mesjid
Raya Al-Matsum
Jika kita ingin
bekunjung ke Kota Medan untuk rekreasi dan mengunjungi tempat wisata, jangan
sampai terlewatkan untuk berkunjung ke Masjid Raya Kota Medan.Masjid
peninggalan kerajaan Melayu Deli ini hingga sekarang masih menjadi kebanggan
umat Islam di Kota Medan. Masjid yang di bangun oleh Sultan Makmun Al Rasyid
ini juga memiliki nilai sejarah yang dan budaya tersendiri. Masjid yang berdiri
sejak tahun 1906 ini di design oleh DENGIMANS seorang arsitek dari Belanda
dengan gaya Moorish. Masjid Raya Kota Medan ini juga dapat menampung jemah
lebih kurang 1500 orang yang melakukan sholat setiap harinya. Banyak turis dari
berbagai negara di dunia selalu berkunjung ke masjid ini. Masjid yang berusia
lebih dari 100 tahun ini masih berdiri kokoh hingga sekarang.
b. Objek Wisata Kota Medan Istana Maimun
![]() |
Istana ini merupakan
salah satu objek wisata utama di kota Medan. Istana ini dibangun pada tahun 1888
oleh Sultan Makmun Al Rasyid Perkasa Alamsyah memerintah dari tahun 1873-1924.
Arsiteknya TH Van Erp bekerja sebagai tentara KNIL. Rancangannya melambangkan
Bangunan Tradisional Melayu dan India Muslim, sedangkan gaya arsiteknya
perpaduan antara Indonesia, Persia dan Eropa, Dihalaman istana ini terdapat
Meriam Puntung yang merupakan bagian dari Legenda Istana Maimon
c. Objek Wisata Kota Medan Tower PDAM Tirtanadi
![]() |
Menara Air
Tirtanadi merupakan salah satu ikon kota Medan. Keberadaan menara ini
dapat dikatakan sangat vital bagi masyarakat kota Medan. Bangunan ini didirikan
pada tahun 1908, oleh pemerintah Belanda, sebagai tempat penampungan air bagi
masyarakat Medan. Namun tidak semua masyarakat medan dapat memanfaatkan menara
air tersebut, hanya golongan menengah keatas saja yang diperkenankan
memanfaatkan menara air tersebut sebagai sumber penghasil air untuk kebutuhan
sehari-hari. Masyarakat golongan menengah kebawah masih menggunakan sumur-sumur
untuk memenuhi kebutuhan air mereka sehari-hari.Selain sebagai pemasok air bagi
warga sekitar, menara ini juga sebagai Landmark kota medan di jamannya.
Pembangunan menara ini juga tidak lepas dari pembangunan perusahaan air milik
pemerintah kolonial Belanda, dengan nama NV. Water Leiding Maatschappij Ajer
Beresih, yang berpusat di Amsterdam, Belanda. Mungkin sekarang ini anda sering mendengar istilah “
air ledeng” dan “air bersih”, kedua istilah diatas memang berasal dari bahasa
belanda, leiding dan ajer beresih. Karena saking lamanya jaman penjajahan
belanda, bahasa yang digunakan masyarakat menjadi campur dengan bahasa Belanda.
Bahkan sampai sekarang, istilah tersebut sering digunakan oleh masyarakat
Indonesia. Letaknya yang strategis, memudahkan akses transportasi ke menara air
tersebut. Menara Air Tirtanadi sekarang telah resmi menjadi milik PDAM Tirtanadi,
letaknya di persimpangan Jl. Sisingamangaraja 1, tidak jauh dari Soeichi
International Hotel. Bahkan dari kejauhan menara yang memiliki tinggi 42 meter
dan berat mencapai 330 ton ini dapat kelihatan. PDAM Tirtanadi juga menyediakan
air minum yang dapat langsung diminum oleh masyarakat yang sedang melintas di
sekitar kawasan tersebut.
d. Objek Wisata Kota Medan Kesawan Square
![]() |
e. Objek Wisata Kota Medan Lapangan Merdeka Medan
![]() |
Lapangan
Merdeka
adalah lapangan besar yang terletak di tengah Jakarta,
Indonesia.
Lapangan ini dikelilingi berbagai kantor dan bangunan penting seperti Istana
Merdeka, Mahkamah Agung, serta berbagai kantor
kementerian negara. Di tengah Medan Merdeka terdapat Monumen
Nasional. Lebar Medan Merdeka membentang sejauh satu kilometer. Pada
masa kolonial Hindia Belanda lapangan ini disebut Koningsplein
(Lapangan Raja).

f. Objek Wisata Kota Medan Kebun Binatang Medan
Kebun Binatang Medan adalah sebuah kebun
binatang di Medan, Indonesia. Lokasinya terletak di Kelurahan Simalingkar B, Medan
Tuntungan, sekitar 10 kilometer dari pusat kota ke arah Brastagi.
Kebun binatang yang saat ini merupakan kebun binatang baru yang diresmikan
Walikota Medan, Abdillah,
pada 14 April
2005. Sebelumnya Kebun
Binatang Medan terletak di Jalan Brigjen Katamso, Kelurahan Kampung Baru, Medan Maimun.
Meskipun baru, kebun binatang di Simalingkar banyak dikritik karena dianggap
tidak menyediakan fasilitas yang layak bagi hewan-hewan yang dimilikinya.
Suasana yang gersang serta pemberian makanan yang kurang bagi para hewan juga
menjadi masalah yang dihadapi kebun binatang ini. Sekitar 1.000 orang
mengunjungi kebun binatang seluas 30 hektar ini setiap akhir minggunya. Pada
hari-hari biasa, jumlah pengunjung diperkirakan berjumlah 150 orang setiap
harinya.
g. Objek Wisata Kota Medan Penangkaran Buaya
Penulis menganalisa, bahwa Objek Wisata Kota Medan yang sering dikunjungi
adalah Mesjid Raya Al-Matsum Kota Medan, yang hampir setiap hari ada
pengunjung, baik pengunjung dalam kota maupun luar kota bahkan dari luar
negeri.
Ada banyak
bangunan-bangunan tua di Medan yang masih menyisakan arsitektur khas Belanda. Beberapa diantaranya
adalah sebagai berikut :
Gedung ini wujud
sejarah yang sangat menankjubkan selesai dibangun pada tahun 1911oleh arsitek
SNUYF, Direktur Jawatan Pekerjaan Umum Belanda untuk Indonesia pada masa itu.
Gedung ini merupakan karya besar utama SNUYF. Kantor Pos ini lokasinya persis
didepan Hotel Dharma Deli. Saat ini menjadi Kantor pos Pusat di Sumatera Utara.
![]() |
Kantor Pos
Besar yang terletak di sisi utara lapangan Merdeka Medan kini tampak masih
berdiri kokoh di usianya yang hampir mencapai 100 tahun.Bangunan yang berdiri
tahun 1911 ini relatif lebih terawat ketimbang bangunan tua yang masih berdiri
di Medan. Ada banyak bangunan tua bersejarah di Medan terancam ambruk karena
diterlantarkan begitu saja.
![]() |
PT.
LONDON SUMATERA INDONESIA, Gedung ini dulunya disebut JULIANA BUILDING pada
tahun 1920-an, dan sekarang dihuni oleh PT. London Sumatera Indonesia (Lonsum).
Saatdidirikan gedung ini milik Harrison dan Crossfield, sebuah perusahan
perkebunan milik Inggris.
Rumah Tjong A Fie di kawasan Kesawan.
Pada tahun
1899, dibangunlah sebuah rumah mewah di kawasan Kesawan. Rumah dengan luas
tanah sebesar 6000 m2 dan luas bangunan sebesar 4000 m2 ini adalah milik Tjong A Fie, seorang Mayor Cina ,
sebuah jabatan yang dinobatkan oleh Belanda padanya pada tanggal 4 September
1885 sepeninggal abangnya, Tjong Yong
Hian. Rumah ini yang berarsitektur khas tradisional Cina, Melayu dan
kolonial. Bangunan itu memiliki ukiran kayu yang indah dan memiliki dua patung
singa yang terletak di dekat gerbang yang artinya untuk mengusir roh-roh Jahat.
Pada tahun 1886, ia memindahkan imperium bisnisnya ke Medan sebagai kota yang
baru diproklamirkan menjadi ibukota Sumatera Timur. Kala itu, Medan hanyalah
sebuah kampung kecil yang berada di antara Sungai Deli dan Sungai Babura. A Fie
membangun rumahnya di Kesawan, di atas bekas persawahan penduduk lokal yang
masih banyak pacet, dan kemudian berkembang menjadi pusat bisnis baru.
BAB III
ANALISA
Penduduk yang terserap, tersebar di
berbagai sektor perekonomian. Sektor yang mempekerjakan banyak orang umumnya
menghasilkan barang dan jasa yang relatif besar. Setiap sektor mengalami laju
pertumbuhan yang berbeda. Demikian pula dengan kemampuan setiap sektor dalam
menyerap tenaga kerja. Perbedaan laju pertumbuhan tersebut mengakibatkan dua
hal. Pertama, terdapat perbedaan laju peningkatan produktivitas kerja di masing-masing
sektor. Kedua, secara berangsur-angsur terjadi perubahan sektoral, baik dalam
penyerapan tenaga kerja maupun dalam kontribusinya dalam pendapatan nasional.
Jadi yang dimaksud dengan penyerapan tenaga kerja dalam penelitian ini adalah
jumlah atau banyaknya orang yang bekerja di berbagai sektor perekonomian.
Dalam perencanaan penyerapan
tenaga kerja, dengan melalui penambahan modal dalam setiap aktifitas
pembangunan akan memberikan dampak positif terhadap perkembangan penyediaan
lapangan kerja yang cukup besar. Penyediaan lapangan kerja tersebut dapat
dilakukan dengan menghasilkan barang dan jasa dimana kegiatan tersebut
memerlukan faktor- faktor produksi sehingga dengan adanya proses produksi dapat
menciptakan lapangan kerja.
Dapat
dikatakan bahwa industri memegang peranan penting dalam pembangunan ekonomi
suatu negara karena melalui pembangunan industri tersebut dapat diharapkan akan
dapat menyerap tenaga kerja lebih banyak lagi dan pada gilirannya nanti dapat
meningkatkan pendapatan masyarakat secara keseluruhan. Jadi jelasnya
pembangunan industri akan dapat menciptakan kesempatan kerja, yang sekaligus
dapat menampung angkatan kerja yang terus- menerus meningkat setiap tahunnya.
Secara
umum ada beberapa keuntungan yang diharapkan dapat diperoleh dalam pengembangan
sektor pariwisata antara lain sebagai berikut: peningkatan pertumbuhan
urbanisasi sebagai akibat adanya pembangunan prasarana dan sarana
kepariwisataan dalam suatu wilayah atau daerah tujuan, kegiatan beberapa
industri yang berhubungan dengan pelayanan wisatawan seperti perusahaan
angkutan, akomodasi, perhotelan, restoran, kesenian daerah, perusahaan meubel
dan lain- lain, meningkatkan produk hasil kebudayaan disebabkan meningkatnya
konsumsi oleh para wisatawan, menyebabkan pemerataan pendapatan, meningkatnya
kesempatan kerja dan berusaha, salah satu usaha pemerintah dalam rangka
meningkatkan penghasilan devisa negara, memperluas pasaran barang- barang yang
dihasilkan dalam negeri, pariwisata dapat memulihkan kesehatan baik jasmani
maupun rohani serta dapat menghilangkan prasangka dan kepicikan, membantu
terciptanya saling pengertian antara penduduk yang datang dengan penduduk
negara yang dikunjunginya.
Pariwisata menjadi sektor yang sangat potensial untuk
dikembangkan sebagai sektor andalan, karena sebagai sebuah industri, pariwisata
banyak membawa efek (multiplier effect) dalam pembangunan di
berbagai sektor serta diyakini sebagai sebuah industri masa depan yang mampu
meningkatkan kualitas hidup masyarakat ke arah yang lebih baik. Di banyak
negara, kepariwisataan merupakan sektor penting sebagai katalisator perkembangan
perekonomian, sebab industri pariwisata dipercaya dapat meningkatkan devisa
negara (foreign exchanges) dan sekaligus dapat menyedot kesempatan kerja
bagi masyarakat setempat. Pengertian
industri pariwisata akan lebih jelas bila kita mempelajari dari jasa atau
produk yang dihasilkan atau pelayanan yang diharapkan wisatawan ketika
melakukan perjalanan. Dengan demikian akan terlihat tahap – tahap wisatawan
sebagai konsumen yang memerlukan pelayanan tertentu.
Manusia
bukan saja merupakan faktor produksi (economic
resources) tetapi juga merupakan sasaran (objectives) dalam pembangunan nasional. Pemanfaatan SDM secara
efektif untuk mengelola kekuatan ekonomi potensial (SDA) dengan bantuan
peralatan modal (dana). Teknologi merupakan sasaran strategis dalam sub sistem
ekonomi yang harus dibina dan dikembangkan.
Analisis
ekonomi Harros dan Domar mengatakan bahwa, apabila penduduk bertambah maka
pendapatan per kapita akan berkurang, kecuali bila pendapatan rill bertambah.
Selanjutnya bila angkatan kerja bertambah, maka output juga harus bertambah
untuk mempertahankan kesempatan kerja penuh dan bila ada investasi maka
pendapatan rill juga harus bertambah untuk mencegah adanya kapasitas
menganggur.
Sasaran
pembangunan dewasa ini adalah meningkatkan pembangunan industri yang relative
padat karya dalam rangka penanggulangan masalah ketenagakerjaan. Akhir- akhir
ini pertambahan angkatan kerja yang berlangsung jauh lebih besar dibandingkan
dengan kemampuan menyerap tenaga kerja, ini dikarenakan semakin berkembangnya
sistem padat modal.
BAB IV
TANTANGAN
TANTANGAN
Beberapa tantangan dari pembangunan
pariwisata dapat dijelaskan sebagai berikut:
Kebocoran (Leakage)
Leakage atau kebocoran dalam pembangunan
pariwisata dapat diakibatkan dari adanya kebocoran yaitu kebocoran import dan
kebocoran export.
Biasanya kebocoran import terjadi ketika terjadinya permintaan terhadap
peralatan-peralatan yang berstandar internasional yang digunakan dalam industri
pariwisata, bahan makanan dan minuman import yang tidak mampu disediakan oleh
masyarakat lokal atau dalam negeri. Besarnya pendapatan dari sektor pariwisata
juga diiringi oleh besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk melakukan import
terhadap produk yang dianggap berstandar internasional. Sedangkan kebocoran export
seringkali terjadi pada pembangunan destinasi wisata khususnya pada negara
miskin atau berkembang yang cenderung memerlukan modal dan investasi yang besar
untuk membangun infrastruktur dan fasilitas wisata lainnya. Kondisi seperti
ini, akan mengundang masuknya penanam modal asing yang memiliki modal yang kuat
untuk membangun resort atau hotel serta fasilitas dan infrastruktur pariwisata,
sebagai imbalannya, keuntungan usaha dan investasi mereka akan mendorong uang
mereka kembali ke negara mereka tanpa bisa dihalangi, hal inilah yang disebut
dengan leakage kebocoran export.Hal
ini membenarkan pendapat dari Sinclair dan Sutcliffe (1988), yang menjelaskan bahwa
pengukuran manfaat ekonomi dari sektor pariwisata pada tingkat sub nasional
harunya menggunakan pemikiran dan data yang lebih kompleks untuk menghindari
terjadinya leakages kebocoran. Khusus masalah leakages pada paper ini akan dibahas pada
sub-bab khusus yakni economic leakages dan strategi meminimalkan economic leakages.
Kebobolan (Enclave Tourism)
Enclave tourism sering diasosiasikan bahwa sebuah
destinasi wisata dianggap hanya sebagai tempat persinggahan sebagai contohnya,
sebuah perjalanan wisata dari manajemen kapal pesiar dimana mereka hanya
singgah pada sebuah destinasi tanpa melewatkan malam atau menginap di
hotel-hotel yang telah disediakan industri lokal sebagai akibatnya dalam
kedatangan wisatawan kapal pesiar tersebut manfaatnya dianggap sangat rendah
atau bahkan tidak memberikan manfaat secara ekonomi bagi masyarakat di sebuah
destinasi yang dikunjunginya. Kenyataan lain yang menyebabkan enclave adalah
kedatangan wisatawan yang melakukan perjalanan wisata yang dikelola oleh biro
perjalanan wisata asing dari origin country sebagai contohnya, mereka
menggunakan maskapai penerbangan milik perusahaan mereka sendiri, kemudian
mereka menginap di sebuah hotel yang di miliki oleh manajemen chain dari negara
mereka sendiri, berwisata dengan armada dari perusahaan chain milik pengusaha
mereka sendiri, dan dipramuwisatakan oleh pramuwisata dari negerinya sendiri,
dan sebagai akibatnya masyarakat lokal tidak memperoleh manfaat ekonomi secara
optimal.
Pembiayaan Infrastruktur (Infrastructure Cost)
Tanpa
disadari ternyata pembangunan sektor pariwisata yang berstandar internasional
dapat menjadi beban biaya tersendiri bagi pemerintah dan akibatnya cenderung
akan dibebankan pada sektor pajak dalam artian untuk membangun infratruktur
tersebut, pendapatan sektor pajak harus ditingkatkan artinya pngutan pajak
terhadap masyarakat harus dinaikkan. Pembangunan pariwisata juga mengharuskan pemerintah
untuk meningkatkan kualitas bandara, jalan raya, dan infrastruktur
pendukungnya, dan tentunya semua hal tersebut memerlukan biaya yang tidak
sedikit dan sangat dimungkinkan pemerintah akan melakukan re-alokasi
pada anggaran sektor lainnya seperti misalnya pengurangan terhadap anggaran
pendidikan dan kesehatan. Kenyataan di atas menguatkan pendapat Harris dan
Harris (1994) yang mengkritisi bahwa analisis terhadap dampak pariwisata
harusnya menyertakan faktor standar klasifikasi industri untuk tiap aktifitas
pada industri pariwisata yang sering dilupakan pada analisis dampak pariwisata.
Meningkatnya Harga-harga secara Dramatis (Increase
in Prices or Inflation)
Peningkatan
permintaan terhadap barang dan jasa dari wisatawan akan menyebabkan
meningkatnya harga secara beruntun inflasi yang pastinya akan berdampak
negative bagi masyarakat lokal yang dalam kenyataannya tidak mengalami
peningkatan pendapatan secara proporsional artinya jikalau pendapatan
masyarakat lokal meningkat namun tidak sebanding dengan peningkatan harga-harga
akan menyebabkan daya beli masyarakat lokal menjadi rendah. Pembangunan
pariwisata juga berhubungan dengan meningkatnya harga sewa rumah, harga tanah,
dan harga-harga property lainnya sehingga sangat dimungkinkan masyarakat lokal
tidak mampu membeli dan cenderung akan tergusur ke daerah pinggiran yang
harganya masih dapat dijangkau. Sebagai konsukuensi logis, pembangunan pariwisata juga
berdampak pada meningkatnya harga-harga barang konsumtif, biaya pendidikan, dan
harga-harga kebutuhan pokok lainnya sehingga pemenuhan akan kebutuhan pokok
justru akan menjadi sulit bagi penduduk lokal. Hal ini juga sering dilupakan
dalam setiap pengukuran manfaat pariwisata terhadap perekonomian pada sebuah
Negara.
Ketergantungan Sektoral (Economic Dependence)
Keanekaragaman
industri dalam sebuah perekonomian menunjukkan sehatnya sebuah negara, jika ada
sebuah negara yang hanya menggantungkan perekonomiannya pada salah satu sektor
tertentu seperti pariwisata misalnya, akan menjadikan sebuah negara menjadi tergantung
pada sektor pariwisata sebagai akibatnya ketahanan ekonomi menjadi sangat
beresiko tinggi. Di beberapa negara, khususnya negara
berkembang yang memiliki sumberdaya yang terbatas memang sudah sepantasnya
mengembangkan pariwisata yang dianggap tidak memerlukan sumberdaya yang besar
namun pada negara yang memiliki sumberdaya yang beranekaragam harusnya dapat
juga mengembangkan sektor lainnya secara proporsional. Ketika
sektor pariwisata dianggap sebagai anak emas, dan sektor lainnya dianggap
sebagai anak diri, maka menurut Archer dan Cooper (1994), penelusuran
tentang manfaat dan dampak pariwisata terhadap ekonomi harusnya menyertakan
variabel sosial yang tidak pernah dihitung oleh fakar lainnya. Ketergantungan
pada sebuah sektor, dan ketergantungan pada kedatangan orang asing dapat
diasosiasikan hilangnya sebuah kemerdekaan sosial dan pada tingkat nasional,
sangat dimungkinkan sebuah negara akan kehilangan kemandirian dan sangat
tergantung pada sektor pariwisata.
Masalah Musiman (Seasonal Characteristics)
Dalam
Industri pariwisata, dikenal adanya musim-musim tertentu, seperti misalnya
musim ramai high
season dimana kedatangan wisatawan akan mengalami puncaknya, tingkat
hunian kamar akan mendekati tingkat hunian kamar maksimal dan kondisi ini akan
berdampak meningkatnya pendapatan bisnis pariwisata. Sementara dikenal juga
musim sepi low
season di mana kondisi ini rata-rata tingkat hunian kamar tidak sesuai
dengan harapan para pebisnis sebagai dampaknya pendapatan indutri pariwisata
juga menurun hal ini yang sering disebut problem seasonal Sementara
ada kenyataan lain yang dihadapi oleh para pekerja, khususnya para pekerja
informal seperti sopir taksi, para pemijat tradisional, para pedagang acung,
mereka semua sangat tergantung pada kedatangan wisatawan, pada kondisi low season
sangat dimungkinkan mereka tidak memiliki lahan pekerjaan yang pasti. Kenyataan
di atas, menguatkan pendapat West (1993) yang menawarkan SAM atau social accounting
matrix untuk memecahkan masalah pariwisata yang saling berhubungan dari
waktu ke waktu, kebermanfaatan pariwisata terhadap ekonomi harusnya berlaku
proporsional untuk semua musim, baik musim sepi maupun musim ramai wisatawan.
BAB V
Kesimpulan dan Saran
Pengaruh positif pembangunan
pariwisata sudah tidak perlu diragukan lagi seperti pendapatan nilai tukar
valuta asing, penerimaan devisa akibat adanya konsumsi wisatawan, penyerapan
tenaga kerja, pembangunan infrastruktur pariwisata yang turut dinikmati oleh
masyarakat local, dan di beberapa destinasi pariwisata juga sebagai generator
pemberdayaan perekonomian masyarakat local.
Selain pengaruh positif tersebut,
pariwisata juga dapat menimbulkan pengaruh negatif seperti economic leakages,
enclave, inflasi, tingginya pembiayaan infrastruktur dan fasilitas,
ketergantungan sektoral, dan masalah musiman. Dari sekian banyak masalah
negatif yang dapat ditimbulkan oleh sektor pariwisata, economic leakages
dianggap masalah yang paling sulit untuk diatasi karena sektor pariwisata akan
bertumbuh pada iklim liberalisasi yang memungkinkan pihak asing dapat melakukan
bisnis pada pasar domestik sehingga terjadinya economic leakages tidak dapat
dihindari. Economic leakages dapat bersifat external, internal, dan invisible leakages,
dimana ketiga jenis leakages tersebut disebabkan oleh faktor yang berbeda-beda.
Leakages tidak dapat dihindari pada kondisi pasar bebas atau
liberalisasi perdagangan saat ini, walau demikian economic leakages dapat diminimalkan
dengan berbagai cara dan strategi. Strategi yang terbaik adalah dengan strategi
struktur clusture yang harusnya dapat diterapkan oleh pemerintah melalui
kesepakatan internasional baik yang dilakukan pada level export, level
supplier, maupun level input ekonomi yang dapat diatur sedemikian rupa untuk
mengurangi atau meminimalkan terjadinya economic leakages.







