Minggu, 06 Januari 2013

POTENSI PENGEMBANGAN WILAYAH KOTA MEDAN PADA SEKTOR PARIWISATA


BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang

            Medan didirikan oleh Guru Patimpus Sembiring Pelawi pada tahun 1590. John Anderson, orang Eropa pertama yang mengunjungi Deli pada tahun 1833 menemukan sebuah kampung yang bernama Medan. Kampung ini berpenduduk 200 orang dan seorang pemimpin bernama Tuanku Pulau Berayan sudah sejak beberapa tahun bermukim disana untuk menarik pajak dari sampan-sampan pengangkut lada yang menuruni sungai. Pada tahun 1886, Medan secara resmi memperoleh status sebagai kota, dan tahun berikutnya residen Pesisir Timur serta Sultan Deli pindah ke Medan. Tahun 1909, Medan menjadi kota yang penting di luar Jawa, terutama setelah pemerintah colonial.
Kota medan adalah kota keempat terbesar di indonesia setelah jakarta, surabaya dan bandung. Sehingga kota medan merupakan kota terbesar yang terletak di luar pulau Jawa.Kota medan terkenal di kalangan pelancong sebagai tempat yang cocok untuk wisata kuliner. Kota ini merupakan kota yang dihuni oleh berbagai macam etnis, sehingga menimbulkan keanekaragaman termasuk dalam hal makanan.Sejatinya kota medan bukanlah kota tujuan wisata, namun kota ini banyak dikunjungi wisatawan yang transit untuk menuju danau toba, pulau samosir dan brastagi, serta tujuan luar negeri seperti Penang.
Sebagai salah satu kota terbesar ketiga di Indonesia, kota Medan juga memiliki berbagai tempat dan kawasan wisata, baik itu tempat wisata peninggalan jaman dahulu, maupun tempat wisata yang dibuat pada masa sekarang.
Kota Medan merupakan Ibukota propinsi Sumatera Utara, juga merupakan kota terbesar ketiga di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya. Kota Medan memiliki banyak objek wisata, baik di dalam kota maupun di sekitarnya. Banyak tempat bersejarah yang bisa kita kunjungi dan kita apresiasi di Kota Medan.
Berbagai suku dan agama bercampur baur menjadi satu, sehingga kota Medan menjadi lebih kokoh karena keberagaman tersebut, ditambah lagi jaminan dari  pemerintah kota Medan serta jajaran kepolisian, yang dengan sigap menangani segala macam peristiwa kriminal sampai yang menjurus kepada terorisme.
Namun dibalik ambisi menuju kota Metropolitan, ternyata pemerintah kota Medan kurang memperhatikan kondisi dan keadaan berbagai sarana dan prasarana penting bagi masyarakat kota medan, terutama dalam hal menangani banjir yang sering melanda bila hujan turun. Pembangunan yang agresif ternyata berdampak sangat buruk bagi lingkungan, dikarenakan para pengembang kurang jeli dalam melihat akibat yang ditimbulkan dari pembangunan tersebut, saat ini ribuan ruko telah dibangun di kota Medan, namun untuk pembuangan air hujan sangat tidak dilakukan perbaikan, sehingga air menggenang di inti kota.
Tujuan
            Untuk mengetahui dan menambah investasi pertumbuhan ekonomi sektor-sektor unggulan dan potensial yang layak dikembangkan sebagai penggerak perekonomian di wilayah Medan, Sumatera Utara.

Masalah
       1.       Kurangnya peran pemko dalam hal promosi.
       2.       Belum memadainya sarana dan prasarana pendukung yang ada.
       3.       Kualitas tenaga kerja yang kurang terlatih.        



BAB II
POTENSI

Sebagai salah satu kota terbesar ketiga di Indonesia, kota Medan juga memiliki berbagai tempat dan kawasan wisata, baik itu tempat wisata peninggalan jaman dahulu, maupun tempat wisata yang dibuat pada masa sekarang.

1.  Objek-objek Wisata di Kota Medan

Berdasarkan hasil penelitian penulis selama ini, dapat disimpulkan bahwa tempat wisata di kota Medan adalah sebagai berikut :


masjidraya-2.jpga. Objek Wisata Kota Medan Mesjid Raya Al-Matsum








Jika kita ingin bekunjung ke Kota Medan untuk rekreasi dan mengunjungi tempat wisata, jangan sampai terlewatkan untuk berkunjung  ke Masjid Raya Kota Medan.Masjid peninggalan kerajaan Melayu Deli ini hingga sekarang masih menjadi kebanggan umat Islam di Kota Medan. Masjid yang di bangun oleh Sultan Makmun Al Rasyid ini juga memiliki nilai sejarah yang dan budaya tersendiri. Masjid yang berdiri sejak tahun 1906 ini di design oleh DENGIMANS seorang arsitek dari Belanda dengan gaya Moorish. Masjid Raya Kota Medan ini juga dapat menampung jemah lebih kurang 1500 orang yang melakukan sholat setiap harinya. Banyak turis dari berbagai negara di dunia selalu berkunjung ke masjid ini. Masjid yang berusia lebih dari 100 tahun ini masih berdiri kokoh hingga sekarang.


b. Objek Wisata Kota Medan Istana Maimun


Istana-Maimun-penghuni-medan-874129_500_301.jpg
 










Istana ini merupakan salah satu objek wisata utama di kota Medan. Istana ini dibangun pada tahun 1888 oleh Sultan Makmun Al Rasyid Perkasa Alamsyah memerintah dari tahun 1873-1924. Arsiteknya TH Van Erp bekerja sebagai tentara KNIL. Rancangannya melambangkan Bangunan Tradisional Melayu dan India Muslim, sedangkan gaya arsiteknya perpaduan antara Indonesia, Persia dan Eropa, Dihalaman istana ini terdapat Meriam Puntung yang merupakan bagian dari Legenda Istana Maimon

c. Objek Wisata Kota Medan Tower PDAM Tirtanadi


29pdam tirtanadi.jpg
 












Menara Air Tirtanadi merupakan salah satu ikon kota Medan. Keberadaan menara ini dapat dikatakan sangat vital bagi masyarakat kota Medan. Bangunan ini didirikan pada tahun 1908, oleh pemerintah Belanda, sebagai tempat penampungan air bagi masyarakat Medan. Namun tidak semua masyarakat medan dapat memanfaatkan menara air tersebut, hanya golongan menengah keatas saja yang diperkenankan memanfaatkan menara air tersebut sebagai sumber penghasil air untuk kebutuhan sehari-hari. Masyarakat golongan menengah kebawah masih menggunakan sumur-sumur untuk memenuhi kebutuhan air mereka sehari-hari.Selain sebagai pemasok air bagi warga sekitar, menara ini juga sebagai Landmark kota medan di jamannya. Pembangunan menara ini juga tidak lepas dari pembangunan perusahaan air milik pemerintah kolonial Belanda, dengan nama NV. Water Leiding Maatschappij Ajer Beresih, yang berpusat di Amsterdam, Belanda. Mungkin sekarang ini anda sering mendengar istilah “ air ledeng” dan “air bersih”, kedua istilah diatas memang berasal dari bahasa belanda, leiding dan ajer beresih. Karena saking lamanya jaman penjajahan belanda, bahasa yang digunakan masyarakat menjadi campur dengan bahasa Belanda. Bahkan sampai sekarang, istilah tersebut sering digunakan oleh masyarakat Indonesia. Letaknya yang strategis, memudahkan akses transportasi ke menara air tersebut. Menara Air Tirtanadi sekarang telah resmi menjadi milik PDAM Tirtanadi, letaknya di persimpangan Jl. Sisingamangaraja 1, tidak jauh dari Soeichi International Hotel. Bahkan dari kejauhan menara yang memiliki tinggi 42 meter dan berat mencapai 330 ton ini dapat kelihatan. PDAM Tirtanadi juga menyediakan air minum yang dapat langsung diminum oleh masyarakat yang sedang melintas di sekitar kawasan tersebut.


d. Objek Wisata Kota Medan Kesawan Square


Kesawan.jpg
 








e. Objek Wisata Kota Medan Lapangan Merdeka Medan


p47688d3ad1487.jpg
 








Lapangan Merdeka adalah lapangan besar yang terletak di tengah Jakarta, Indonesia. Lapangan ini dikelilingi berbagai kantor dan bangunan penting seperti Istana Merdeka, Mahkamah Agung, serta berbagai kantor kementerian negara. Di tengah Medan Merdeka terdapat Monumen Nasional. Lebar Medan Merdeka membentang sejauh satu kilometer. Pada masa kolonial Hindia Belanda lapangan ini disebut Koningsplein (Lapangan Raja).

kebun_binatang1_big.jpg
f. Objek Wisata Kota Medan Kebun Binatang Medan












            Kebun Binatang Medan adalah sebuah kebun binatang di Medan, Indonesia. Lokasinya terletak di Kelurahan Simalingkar B, Medan Tuntungan, sekitar 10 kilometer dari pusat kota ke arah Brastagi. Kebun binatang yang saat ini merupakan kebun binatang baru yang diresmikan Walikota Medan, Abdillah, pada 14 April 2005. Sebelumnya Kebun Binatang Medan terletak di Jalan Brigjen Katamso, Kelurahan Kampung Baru, Medan Maimun. Meskipun baru, kebun binatang di Simalingkar banyak dikritik karena dianggap tidak menyediakan fasilitas yang layak bagi hewan-hewan yang dimilikinya. Suasana yang gersang serta pemberian makanan yang kurang bagi para hewan juga menjadi masalah yang dihadapi kebun binatang ini. Sekitar 1.000 orang mengunjungi kebun binatang seluas 30 hektar ini setiap akhir minggunya. Pada hari-hari biasa, jumlah pengunjung diperkirakan berjumlah 150 orang setiap harinya.



g. Objek Wisata Kota Medan Penangkaran Buaya

9-7-2012 10-35-35 AM.png

 Penulis menganalisa, bahwa Objek Wisata Kota Medan yang sering dikunjungi adalah Mesjid Raya Al-Matsum Kota Medan, yang hampir setiap hari ada pengunjung, baik pengunjung dalam kota maupun luar kota bahkan dari luar negeri.

Ada banyak bangunan-bangunan tua di Medan yang masih menyisakan arsitektur khas Belanda. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut :













Gedung ini wujud sejarah yang sangat menankjubkan selesai dibangun pada tahun 1911oleh arsitek SNUYF, Direktur Jawatan Pekerjaan Umum Belanda untuk Indonesia pada masa itu. Gedung ini merupakan karya besar utama SNUYF. Kantor Pos ini lokasinya persis didepan Hotel Dharma Deli. Saat ini menjadi Kantor pos Pusat di Sumatera Utara.


kantor pos.jpg
 









Kantor Pos Besar yang terletak di sisi utara lapangan Merdeka Medan kini tampak masih berdiri kokoh di usianya yang hampir mencapai 100 tahun.Bangunan yang berdiri tahun 1911 ini relatif lebih terawat ketimbang bangunan tua yang masih berdiri di Medan. Ada banyak bangunan tua bersejarah di Medan terancam ambruk karena diterlantarkan begitu saja.





5520325859_37f641e0a1_z.jpg
 










           PT. LONDON SUMATERA INDONESIA, Gedung ini dulunya disebut JULIANA BUILDING pada tahun 1920-an, dan sekarang dihuni oleh PT. London Sumatera Indonesia (Lonsum). Saatdidirikan gedung ini milik Harrison dan Crossfield, sebuah perusahan perkebunan milik Inggris.













Pada tahun 1899, dibangunlah sebuah rumah mewah di kawasan Kesawan. Rumah dengan luas tanah sebesar 6000 m2 dan luas bangunan sebesar 4000 m2 ini adalah milik Tjong A Fie, seorang Mayor Cina , sebuah jabatan yang dinobatkan oleh Belanda padanya pada tanggal 4 September 1885 sepeninggal abangnya, Tjong Yong Hian. Rumah ini yang berarsitektur khas tradisional Cina, Melayu dan kolonial. Bangunan itu memiliki ukiran kayu yang indah dan memiliki dua patung singa yang terletak di dekat gerbang yang artinya untuk mengusir roh-roh Jahat. Pada tahun 1886, ia memindahkan imperium bisnisnya ke Medan sebagai kota yang baru diproklamirkan menjadi ibukota Sumatera Timur. Kala itu, Medan hanyalah sebuah kampung kecil yang berada di antara Sungai Deli dan Sungai Babura. A Fie membangun rumahnya di Kesawan, di atas bekas persawahan penduduk lokal yang masih banyak pacet, dan kemudian berkembang menjadi pusat bisnis baru.
BAB III
ANALISA

            Penduduk yang terserap, tersebar di berbagai sektor perekonomian. Sektor yang mempekerjakan banyak orang umumnya menghasilkan barang dan jasa yang relatif besar. Setiap sektor mengalami laju pertumbuhan yang berbeda. Demikian pula dengan kemampuan setiap sektor dalam menyerap tenaga kerja. Perbedaan laju pertumbuhan tersebut mengakibatkan dua hal. Pertama, terdapat perbedaan laju peningkatan produktivitas kerja di masing-masing sektor. Kedua, secara berangsur-angsur terjadi perubahan sektoral, baik dalam penyerapan tenaga kerja maupun dalam kontribusinya dalam pendapatan nasional. Jadi yang dimaksud dengan penyerapan tenaga kerja dalam penelitian ini adalah jumlah atau banyaknya orang yang bekerja di berbagai sektor perekonomian.
Dalam perencanaan penyerapan tenaga kerja, dengan melalui penambahan modal dalam setiap aktifitas pembangunan akan memberikan dampak positif terhadap perkembangan penyediaan lapangan kerja yang cukup besar. Penyediaan lapangan kerja tersebut dapat dilakukan dengan menghasilkan barang dan jasa dimana kegiatan tersebut memerlukan faktor- faktor produksi sehingga dengan adanya proses produksi dapat menciptakan lapangan kerja.
       Dapat dikatakan bahwa industri memegang peranan penting dalam pembangunan ekonomi suatu negara karena melalui pembangunan industri tersebut dapat diharapkan akan dapat menyerap tenaga kerja lebih banyak lagi dan pada gilirannya nanti dapat meningkatkan pendapatan masyarakat secara keseluruhan. Jadi jelasnya pembangunan industri akan dapat menciptakan kesempatan kerja, yang sekaligus dapat menampung angkatan kerja yang terus- menerus meningkat setiap tahunnya.
            Secara umum ada beberapa keuntungan yang diharapkan dapat diperoleh dalam pengembangan sektor pariwisata antara lain sebagai berikut: peningkatan pertumbuhan urbanisasi sebagai akibat adanya pembangunan prasarana dan sarana kepariwisataan dalam suatu wilayah atau daerah tujuan, kegiatan beberapa industri yang berhubungan dengan pelayanan wisatawan seperti perusahaan angkutan, akomodasi, perhotelan, restoran, kesenian daerah, perusahaan meubel dan lain- lain, meningkatkan produk hasil kebudayaan disebabkan meningkatnya konsumsi oleh para wisatawan, menyebabkan pemerataan pendapatan, meningkatnya kesempatan kerja dan berusaha, salah satu usaha pemerintah dalam rangka meningkatkan penghasilan devisa negara, memperluas pasaran barang- barang yang dihasilkan dalam negeri, pariwisata dapat memulihkan kesehatan baik jasmani maupun rohani serta dapat menghilangkan prasangka dan kepicikan, membantu terciptanya saling pengertian antara penduduk yang datang dengan penduduk negara yang dikunjunginya.
Pariwisata menjadi sektor yang sangat potensial untuk dikembangkan sebagai sektor andalan, karena sebagai sebuah industri, pariwisata banyak membawa efek (multiplier effect) dalam pembangunan di berbagai sektor serta diyakini sebagai sebuah industri masa depan yang mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat ke arah yang lebih baik. Di banyak negara, kepariwisataan merupakan sektor penting sebagai katalisator perkembangan perekonomian, sebab industri pariwisata dipercaya dapat meningkatkan devisa negara (foreign exchanges) dan sekaligus dapat menyedot kesempatan kerja bagi masyarakat setempat. Pengertian industri pariwisata akan lebih jelas bila kita mempelajari dari jasa atau produk yang dihasilkan atau pelayanan yang diharapkan wisatawan ketika melakukan perjalanan. Dengan demikian akan terlihat tahap – tahap wisatawan sebagai konsumen yang memerlukan pelayanan tertentu.
            Manusia bukan saja merupakan faktor produksi (economic resources) tetapi juga merupakan sasaran (objectives) dalam pembangunan nasional. Pemanfaatan SDM secara efektif untuk mengelola kekuatan ekonomi potensial (SDA) dengan bantuan peralatan modal (dana). Teknologi merupakan sasaran strategis dalam sub sistem ekonomi yang harus dibina dan dikembangkan.
            Analisis ekonomi Harros dan Domar mengatakan bahwa, apabila penduduk bertambah maka pendapatan per kapita akan berkurang, kecuali bila pendapatan rill bertambah. Selanjutnya bila angkatan kerja bertambah, maka output juga harus bertambah untuk mempertahankan kesempatan kerja penuh dan bila ada investasi maka pendapatan rill juga harus bertambah untuk mencegah adanya kapasitas menganggur.
            Sasaran pembangunan dewasa ini adalah meningkatkan pembangunan industri yang relative padat karya dalam rangka penanggulangan masalah ketenagakerjaan. Akhir- akhir ini pertambahan angkatan kerja yang berlangsung jauh lebih besar dibandingkan dengan kemampuan menyerap tenaga kerja, ini dikarenakan semakin berkembangnya sistem padat modal.

BAB IV
TANTANGAN

Beberapa tantangan dari pembangunan pariwisata dapat dijelaskan sebagai berikut:
 Kebocoran (Leakage)
Leakage atau kebocoran dalam pembangunan pariwisata dapat diakibatkan dari adanya kebocoran yaitu kebocoran import dan kebocoran export. Biasanya kebocoran import terjadi ketika terjadinya permintaan terhadap peralatan-peralatan yang berstandar internasional yang digunakan dalam industri pariwisata, bahan makanan dan minuman import yang tidak mampu disediakan oleh masyarakat lokal atau dalam negeri. Besarnya pendapatan dari sektor pariwisata juga diiringi oleh besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk melakukan import terhadap produk yang dianggap berstandar internasional. Sedangkan kebocoran export seringkali terjadi pada pembangunan destinasi wisata khususnya pada negara miskin atau berkembang yang cenderung memerlukan modal dan investasi yang besar untuk membangun infrastruktur dan fasilitas wisata lainnya. Kondisi seperti ini, akan mengundang masuknya penanam modal asing yang memiliki modal yang kuat untuk membangun resort atau hotel serta fasilitas dan infrastruktur pariwisata, sebagai imbalannya, keuntungan usaha dan investasi mereka akan mendorong uang mereka kembali ke negara mereka tanpa bisa dihalangi, hal inilah yang disebut dengan leakage kebocoran export.Hal ini membenarkan pendapat dari Sinclair dan Sutcliffe (1988), yang menjelaskan bahwa pengukuran manfaat ekonomi dari sektor pariwisata pada tingkat sub nasional harunya menggunakan pemikiran dan data yang lebih kompleks untuk menghindari terjadinya leakages kebocoran. Khusus masalah leakages pada paper ini akan dibahas pada sub-bab khusus yakni economic leakages dan strategi meminimalkan economic leakages.
Kebobolan (Enclave Tourism)
Enclave tourism sering diasosiasikan bahwa sebuah destinasi wisata dianggap hanya sebagai tempat persinggahan sebagai contohnya, sebuah perjalanan wisata dari manajemen kapal pesiar dimana mereka hanya singgah pada sebuah destinasi tanpa melewatkan malam atau menginap di hotel-hotel yang telah disediakan industri lokal sebagai akibatnya dalam kedatangan wisatawan kapal pesiar tersebut manfaatnya dianggap sangat rendah atau bahkan tidak memberikan manfaat secara ekonomi bagi masyarakat di sebuah destinasi yang dikunjunginya. Kenyataan lain yang menyebabkan enclave adalah kedatangan wisatawan yang melakukan perjalanan wisata yang dikelola oleh biro perjalanan wisata asing dari origin country sebagai contohnya, mereka menggunakan maskapai penerbangan milik perusahaan mereka sendiri, kemudian mereka menginap di sebuah hotel yang di miliki oleh manajemen chain dari negara mereka sendiri, berwisata dengan armada dari perusahaan chain milik pengusaha mereka sendiri, dan dipramuwisatakan oleh pramuwisata dari negerinya sendiri, dan sebagai akibatnya masyarakat lokal tidak memperoleh manfaat ekonomi secara optimal.
Pembiayaan Infrastruktur (Infrastructure Cost)
Tanpa disadari ternyata pembangunan sektor pariwisata yang berstandar internasional dapat menjadi beban biaya tersendiri bagi pemerintah dan akibatnya cenderung akan dibebankan pada sektor pajak dalam artian untuk membangun infratruktur tersebut, pendapatan sektor pajak harus ditingkatkan artinya pngutan pajak terhadap masyarakat harus dinaikkan. Pembangunan pariwisata juga mengharuskan pemerintah untuk meningkatkan kualitas bandara, jalan raya, dan infrastruktur pendukungnya, dan tentunya semua hal tersebut memerlukan biaya yang tidak sedikit dan sangat dimungkinkan pemerintah akan melakukan re-alokasi pada anggaran sektor lainnya seperti misalnya pengurangan terhadap anggaran pendidikan dan kesehatan. Kenyataan di atas menguatkan pendapat Harris dan Harris (1994) yang mengkritisi bahwa analisis terhadap dampak pariwisata harusnya menyertakan faktor standar klasifikasi industri untuk tiap aktifitas pada industri pariwisata yang sering dilupakan pada analisis dampak pariwisata.
Meningkatnya Harga-harga secara Dramatis (Increase in Prices or Inflation)
Peningkatan permintaan terhadap barang dan jasa dari wisatawan akan menyebabkan meningkatnya harga secara beruntun inflasi yang pastinya akan berdampak negative bagi masyarakat lokal yang dalam kenyataannya tidak mengalami peningkatan pendapatan secara proporsional artinya jikalau pendapatan masyarakat lokal meningkat namun tidak sebanding dengan peningkatan harga-harga akan menyebabkan daya beli masyarakat lokal menjadi rendah. Pembangunan pariwisata juga berhubungan dengan meningkatnya harga sewa rumah, harga tanah, dan harga-harga property lainnya sehingga sangat dimungkinkan masyarakat lokal tidak mampu membeli dan cenderung akan tergusur ke daerah pinggiran yang harganya masih dapat dijangkau. Sebagai konsukuensi logis, pembangunan pariwisata juga berdampak pada meningkatnya harga-harga barang konsumtif, biaya pendidikan, dan harga-harga kebutuhan pokok lainnya sehingga pemenuhan akan kebutuhan pokok justru akan menjadi sulit bagi penduduk lokal. Hal ini juga sering dilupakan dalam setiap pengukuran manfaat pariwisata terhadap perekonomian pada sebuah Negara.
Ketergantungan Sektoral (Economic Dependence)
Keanekaragaman industri dalam sebuah perekonomian menunjukkan sehatnya sebuah negara, jika ada sebuah negara yang hanya menggantungkan perekonomiannya pada salah satu sektor tertentu seperti pariwisata misalnya, akan menjadikan sebuah negara menjadi tergantung pada sektor pariwisata sebagai akibatnya ketahanan ekonomi menjadi sangat beresiko tinggi.  Di beberapa negara, khususnya negara berkembang yang memiliki sumberdaya yang terbatas memang sudah sepantasnya mengembangkan pariwisata yang dianggap tidak memerlukan sumberdaya yang besar namun pada negara yang memiliki sumberdaya yang beranekaragam harusnya dapat juga mengembangkan sektor lainnya secara proporsional. Ketika sektor pariwisata dianggap sebagai anak emas, dan sektor lainnya dianggap sebagai anak diri, maka menurut Archer dan Cooper (1994), penelusuran tentang manfaat dan dampak pariwisata terhadap ekonomi harusnya menyertakan variabel sosial yang tidak pernah dihitung oleh fakar lainnya. Ketergantungan pada sebuah sektor, dan ketergantungan pada kedatangan orang asing dapat diasosiasikan hilangnya sebuah kemerdekaan sosial dan pada tingkat nasional, sangat dimungkinkan sebuah negara akan kehilangan kemandirian dan sangat tergantung pada sektor pariwisata.

Masalah Musiman (Seasonal Characteristics)
Dalam Industri pariwisata, dikenal adanya musim-musim tertentu, seperti misalnya musim ramai high season dimana kedatangan wisatawan akan mengalami puncaknya, tingkat hunian kamar akan mendekati tingkat hunian kamar maksimal dan kondisi ini akan berdampak meningkatnya pendapatan bisnis pariwisata. Sementara dikenal juga musim sepi low season di mana kondisi ini rata-rata tingkat hunian kamar tidak sesuai dengan harapan para pebisnis sebagai dampaknya pendapatan indutri pariwisata juga menurun hal ini yang sering disebut problem seasonal Sementara ada kenyataan lain yang dihadapi oleh para pekerja, khususnya para pekerja informal seperti sopir taksi, para pemijat tradisional, para pedagang acung, mereka semua sangat tergantung pada kedatangan wisatawan, pada kondisi low season sangat dimungkinkan mereka tidak memiliki lahan pekerjaan yang pasti. Kenyataan di atas, menguatkan pendapat West (1993) yang menawarkan SAM atau social accounting matrix untuk memecahkan masalah pariwisata yang saling berhubungan dari waktu ke waktu, kebermanfaatan pariwisata terhadap ekonomi harusnya berlaku proporsional untuk semua musim, baik musim sepi maupun musim ramai wisatawan.

BAB V
PENUTUP


Kesimpulan dan Saran

Pengaruh positif pembangunan pariwisata sudah tidak perlu diragukan lagi seperti pendapatan nilai tukar valuta asing, penerimaan devisa akibat adanya konsumsi wisatawan, penyerapan tenaga kerja, pembangunan infrastruktur pariwisata yang turut dinikmati oleh masyarakat local, dan di beberapa destinasi pariwisata juga sebagai generator pemberdayaan perekonomian masyarakat local.
Selain pengaruh positif tersebut, pariwisata juga dapat menimbulkan pengaruh negatif seperti economic leakages, enclave, inflasi, tingginya pembiayaan infrastruktur dan fasilitas, ketergantungan sektoral, dan masalah musiman. Dari sekian banyak masalah negatif yang dapat ditimbulkan oleh sektor pariwisata, economic leakages dianggap masalah yang paling sulit untuk diatasi karena sektor pariwisata akan bertumbuh pada iklim liberalisasi yang memungkinkan pihak asing dapat melakukan bisnis pada pasar domestik sehingga terjadinya economic leakages tidak dapat dihindari. Economic leakages dapat bersifat external, internal, dan invisible leakages, dimana ketiga jenis leakages tersebut disebabkan oleh faktor yang berbeda-beda.
Leakages tidak dapat dihindari pada kondisi pasar bebas atau liberalisasi perdagangan saat ini, walau demikian economic leakages dapat diminimalkan dengan berbagai cara dan strategi. Strategi yang terbaik adalah dengan strategi struktur clusture yang harusnya dapat diterapkan oleh pemerintah melalui kesepakatan internasional baik yang dilakukan pada level export, level supplier, maupun level input ekonomi yang dapat diatur sedemikian rupa untuk mengurangi atau meminimalkan terjadinya economic leakages.